Rabu, 06 April 2016

Naufal Caya Curhat Pascapemira

"Banyak yang Bilang Saya Gila"

Ahmad Naufal A. Caya

Lebih dari sepekan yang lalu pemilihan raya (Pemira) di Universitas Lampung (Unila) untuk memilih presiden-wakil presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM). Rabu (30/3) lalu hiruk pikuk pesta demokrasi di kampus berjuluk Kampus Hijau tersebut kini meninggalkan kisah yang rupanya menjadi curahan hati (curhat) mantan Calon Presiden Mahasiswa (Presma) Ahmad Naufal A. Caya.

Laporan Tim Redaksi
BANDARLAMPUNG -

SAAT disinggung untuk membuka cerita pengalamannya menjadi seorang calon presiden Unila, pria kelahiran Bandarlampung, 17 Maret 1997 ini hanya tertawa. "Itu pengalaman saya yang tidak mungkin saya lupakan dan menjadi pelajaran ke depannya," ujar Naufal membuka cerita.

Menurutnya, tidak banyak yang tahu apa alasan dirinya memutuskan untuk maju dalam suksesi BEM Unila 1 tersebut. Sehingga wajar saja tidak sedikit sivitas akademika Unila hingga masyarakat umum pun bertanya-tanya bahkan hingga mengolok-olok. "Orang banyak yang bilang saya gila. Baru semester empat sudah berani maju jadi presma. Nggak ada sejarahnya," tuturnya sembari tertawa.

"Saya maju karena ingin berkontribusi secara maksimal untuk Unila. Memang menjadi presma bukan satu-satunya cara supaya saya bisa mengabdi untuk Unila. Tapi, seperti yang kita ketahui, kita tidak akan dipandang dan ide-ide kita tidak akan didengar kalau kita bukan siapa-siapa. Iya kan?," ungkapnya.

Menjadi presma, lanjutnya, adalah cara yang dipandang tepat dengan membuat program-program yang nantinya diperjuangkan oleh BEM demi kepentingan sivitas akademika, khususnya mahasiswa sebagai pemeran utama dalam institusi perguruan tinggi. "Apa yang saya sampaikan ini tidak langsung dipercaya oleh mereka yang mendengar. Ada sih yang percaya, tapi banyak juga yang nggak mau dengar," katanya.

Sembari menyeruput secangkir teh hangat di depannya, Naufal melanjutkan ceritanya. Ia mengaku di 2015 lalu pernah mengambil berkas capresma juga. "Kalau dulu itu iseng. Tahun ini yang serius," ujarnya lantas tertawa lagi. Dirinya mengaku, persiapannya jelang Pemira 2016 lalu hanya 1,5 bulan. Di mulai dari pertengahan Januari dirinya mulai mendapat support dari beberapa dosen dan sahabat-sahabatnya.

"Ada dosen-dosen yang sudah saya anggap mentor, mereka support saya untuk maju. Saya bilang jadi presma itu nggak becandaan, harus serius. Makanya terlebih dahulu saya konsultasi ke Allah, salat istikharah," katanya.

Selama dirinya memikirkan niatnya tersebut, ia sudah tiga kali salat Istikharah dan dua kali mendapatkan mimpi. "Saya nggak tahu itu mimpi buruk atau jawaban salat saya. Yang jelas, di dua mimpi itu saya dikeroyok sekumpulan orang dan mereka berteriak saya itu hanya mau merebut kekuasaan dari kumpulan orang itu," ungkapnya.

Meski dua kali mendapat mimpi, tak lantas membuatnya mengurungkan niat. Hal ini sesuai mottonya, yakni kalau berani jangan takut-takut, kalau takut jangan berani-berani. Jadilah ia membuat visi, misi, program aksi, dan tak lupa mencari pendamping alias wakil presiden.

Hal yang menurutnya lucu adalah sampai H-2 penutupan pendaftaran dirinya belum juga menemukan sang wakil. "Banyak yang saya ajak nggak mau. Alasannya takut menang katanya. Ada sih yang mau tapi sayanya yang nggak mau," selorohnya. Barulah ia mendapatkan sosok wakil setelah mendapat usul dari Nur Hudiman, seniornya di organisasi yang ia ikuti. Ya, dia Baidowi.

"H-2 saya baru dapat pasangan. Kak Baidowi itu sebelumnya tidak pernah mengira saya ajak maju karena dia masuk di pendukung saya. Rupanya jodoh saya itu ada di dekat saya," candanya.

Setelah mengembalikan berkas dan melengkapi berkas pendaftaran dua hari setelahnya, tibalah pengumuman verifikasi berkas. "Saya betul-betul tidak menyangka bisa lolos verifikasi. Malah yang kami kira bakal ada tiga pasang, rupanya pasangan Risko-Jeje yang gugur," kata dia.

Satu hal yang tidak bisa lupakan ketika dirinya di suatu malam jelang hari pemilihan ditelepon orang tidak dikenal dengan bernada ancaman. "Saya dibilang aktifis gadungan. Diancam dibunuh juga. Saya tidak tahu apa maksud yang menelpon itu," bebernya.

Ditanyakan apakah ia akan melaporkan kepada pihak berwajib, Naufal buru-buru membantah. "Nggak perlu lah. Orangnya saja siapa kita tidak tahu. Tim saya sih marah, cuma saya tanggapi dengan candaan-candaan saja," jelasnya. Memang sosok pria berkacamata ini tidak terlepas dari "joke" dan kelakar yang menurutnya hal itu untuk menghilangkan beban fikiran.

Selain diancam, pasangan Nabawi-singkatan Naufal-Baidowi- juga mendapat serangan black campaign. Mulai dari mengait-ngaitkan majunya Naufal dengan Pilkada 2017 hingga menyebutkan Naufal adalah mahasiswa pro-rektorat yang akan menghapuskan aksi sebagai bagian yang tidak bisa dilepaskam dari gerakan mahasiswa. "Yang lebih mengherankan lagi saya difitnah dibiayai oleh rektor dan perusahaan-perusahaan besar," bebernya.

Dirinya tak menyangkal tuduhan-tuduhan tersebut adalah fitnah, namun dirinya menghadapinya dengan santai dan tak ingin ambil pusing. "Biar orang yang menilai. Ini dunia akademik, melalui curhatan saya ini, saya ingin mengingatkan mereka agar cukup menyerang saya dan jangan kepada capresma berikutnya. Kalau begini terus lama-lama nggak ada lagi yang mau nyalon karena takut," ingatnya.

Melihat hasil Pemira 2016 yang menunjukkan kekalahan di kubunya, Naufal menilai hal itu wajar dalam suatu suksesi. "Saya anggap wajar. Tiap suksesi pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Saya ingat pesan almarhum kakek saya, bahwa jabatan itu jangan dicari dan jangan dipertahankan mati-matian. Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya," ujar pengurus DPD KNPI Kota Bandarlampung ini.

Terakhir, ia mengatakan ke depannya demokrasi di kampus jangan pernah ada lagi seperti yang ia alami. "Intimidasi dan black campaign itu memang ada di setiap suksesi. Tapi kalau di kampus yang notabene orang-orang di dalamnya adalah manusia intelek itu namanya keterlaluan. Biarlah ini terjadi pada saya, jangan sampai kepada yang lainnya," tegasnya.

Ditanyakan apakah ke depan ia berniat untuk maju lagi dalam suksesi BEM Unila 1, ia kembali tertawa. "Dibilang kapok sih nggak. Tapi kita lihat saja nanti. Saya tidak mau berandai-andai," pungkasnya. (*)

Selasa, 22 Maret 2016

Nabawi Resmi Serahkan Berkas Tambahan Pendaftaran



Persiapan Strategi Tetap Jalan

 
Pasangan Nabawi bersama relawan usai menyerahkan berkas pencalonan, Jumat (18/3) lalu.
BANDARLAMPUNG – Bakal Calon Presiden dan Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Lampung (BEM Unila) Ahmad Naufal A. Caya – Baidowi (Nabawi) Selasa (22/3) siang resmi menyerahkan berkas tambahan pendaftaran kepada panitia khusus pemilihan raya (pansus pemira) Unila di Saung DPM/MPM Unila.

Pasangan Nabawi yang didampingi sejumlah relawannya Nampak kompak mengenakan kemeja putih dan celana dasar hitam. Juru Bicara Pasangan Nabawi, Rosim Nyerupa, menjelaskan, sesuai dengan jadwal Pemira Unila 21-22 Maret pansus memberikan kesempatan kepada tiga bakal calon presiden dan wakil presiden untuk memperbaiki atau menambah berkas pendaftarannya. “Untuk Nabawi sendiri sebenarnya sudah lengkap. Namun, ada beberapa yang diklarifikasi sedikit kepada Pansus dan sekaligus menambahkan berkas kami yaitu fotokopi KTM yang merupakan bentuk dukungan dari sahabat-sahabat kita di Fakultas Kedokteran (FK); Fakultas Hukum (FH); dan Fakultas Pertanian (FP),” jelasnya.

Rosim melanjutkan, Nabawi kini menunggu hasil verifikasi berkas oleh Pansus yang akan diumumkan hasilnya pada Selasa (22/3) petang ini. “Kita yakin dan percaya Pansus menjalankan tugasnya dengan sesuai aturan,” katanya.

Bakal Calon Presiden BEM Unila, Naufal A. Caya, mengatakan, kini ia bersama seluruh relawan terus menyiapkan strategi dalam menghadapi suksesi ini. “Saya memiliki keyakinan Nabawi tetap lolos. Berkas lengkap, semua sudah kita serahkan kepada Pansus. Strategi terus kita susun dan relawan terus kita siapkan hingga ke jurusan bahkan di tiap angkatan,” ungkapnya.

Ketua Pansus Unila Muhammad Fauzul Adzim saat menerima berkas pasangan Nabawi mengungkapkan bahwa pasangan ini adalah kandidat yang paling kooperatif dan rapih dari segi berkas. Mulai dari persyaratan administrasi hingga fotokopi KTM sebagai bukti dukungan. “Pasangan Nabawi paling rapih dari segi berkas. Pasangan lain masih tipis-tipis untuk fotkopi KTM-nya,” ujar Fauzul Selasa (22/3) siang tadi. (redaksi)

Senin, 14 Maret 2016

Dituduh Berambisi, Ini Jawaban Naufal


Naufal bersama rekan-rekannya dalam suatu kesempatan sosialisasi SNMPTN di SMA Al-Azhar 3 belum lama ini



BANDARLAMPUNG – Jelang pemilihan raya (pemira) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Lampung (Unila) suasana semakin memanas. Bakal Calon Presiden BEM U KBM Unila Ahmad Naufal A. Caya bahkan terkena imbas black campaign yang dilancarkan kepada dirinya. Misalnya, Naufal dituduh berambisi untuk menduduki kursi BEM Unila 1 dan tidak pro terhadap mahasiswa sebagaimana tugas BEM pada umumnya.

Kondisi ini ditanggapi pria berkacamata ini dengan santai dengan mengatakan hal tersebut adalah hal biasa jelang suksesi. “Isu ataupun fitnah itu biasa. Memang kabar itu sudah saya dengar, tapi untuk apa ditanggapi dengan serius. Karena kita tidak merasa seperti itu. Untuk meraih kesuksesan kan pasti penuh tantangan,” jelasnya, Senin (14/3).

Naufal yang didampingi sejumlah timnya menegaskan, dirinya tidak pernah berambisi untuk menduduki kursi presiden dengan cara-cara yang tidak dibenarkan. “Kalau bermain itu harus fair. Seorang politikus sejati kalau memang benar-benar cerdas pasti tidak akan menggunakan cara-cara black campaign. Kalau seperti ini kan sudah menjatuhkan harga diri seseorang namanya,” ujarnya sembari bercanda.

Ditanyakan langkah-langkahnya menanggapi isu negatif tentang dirinya, mantan wartawan Radar Lampung ini mengaku menanggapinya dengan santai dan candaan. “Nggak usah dibuat pusing. Kita harus fokus bagaimana nantinya kita dapat berkontribusi positif dan aktif  dalam pengembangan Unila. Karena itu, mahasiswa harus aktif dan berani menyuarakan semua aspirasi untuk memperkaya proses pengambilan kebijakan di Unila tentunya dengan batasan-batasan,” paparnya.

Naufal menambahkan, Salah satu penghambat dalam proses pengembangan suatu perguruan tinggi adalah lemahnya peran dan pemberdayaan mahasiswa. Mahasiswa biasanya hanya jadi subjek yang tidak banyak dilibatkan, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun dalam pengelolaan pengembangan perguruan tinggi. “Nah, bila saya mendapat amanah peran mahasiswa harus dioptimalkan,” tutupnya. (redaksi)


Minggu, 13 Maret 2016

Tawarkan Konsep ’Religi’, Naufal Siap Rebut Kursi BEM Unila 1


Ahmad Naufal A. Caya


BANDARLAMPUNG –Universitas Lampung (Unila) akan kembali menggelar pemilihan raya (Pemira) untuk memilih anggota dewan perwakilan mahasiswa (DPM) serta presiden dan wakil presiden badan eksekutif mahasiswa (BEM). Pemira 2016 kali ini akan digelar pada Rabu (30/3) mendatang dan disebut-sebut sebagai Pemira yang tidak kalah panas dibanding pemira di tahun-tahun sebelumnya.

Suksesi tahun ini menarik minat mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unila, Ahmad Naufal A. Caya, untuk ikut serta dalam bursa perebutan kursi BEM Unila 1. Dalam rilis resminya, mahasiswa angkatan 2014 ini menyatakan siap menjadi garda terdepan menyuarakan aspirasi seluruh mahasiswa Unila dengan mengusung visi Religius, Unggul, dan Berintegritas (Religi). “Saat ini Unila telah memasuki usia 50 tahun. Diusianya yang cukup matang ini, Unila memiliki serangkaian tantangan dalam menghadapi persaingan global. Selain itu, Unila juga memiliki visi sebagai top ten university in 2025 yang tinggal hitungan tahun lagi,” paparnya.

Naufal melanjutkan, tantangan besar yang dihadapi Unila tersebut tentunya harus dicapai secara bersama-sama dengan seluruh civitas akademika.  “Kontribusi aktif berupa pikiran positif dari mahasiswa Unila yang diwakili oleh BEM tentunya akan menjadi rujukan pimpinan universitas dalam membuat kebijakan apabila buah pikiran yang disampaikan adalah saran yang konstruktif,” jelasnya.

Menurut Naufal, alasan dirinya mengusung visi Religi adalah suatu upaya mewujudkan Unila yang memiliki iklim akademis yang mengedepankan nilai-nilai keagamaan dan moralitas yang berlandaskan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; terwujudnya Unila yang mampu berperan aktif dalam pembangunan bangsa melalui proses, pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat; dan terwujudnya Unila yang memegang teguh nilai keadilan dan kesatuan yang memancarkan sikap kejujuran.

“Tidak muluk-muluk, saya mengajak seluruh civitas akademika agar mengedepankan nilai-nilai keagamaan dan moralitas, karena itu merupakan kunci meningkatkan reputasi Unila. Apalagi Unila kini tengah melakukan reformasi dengan mengimplementasikan prinsip-prinsip good university governance,” papar alumnus SMA Al Azhar 3 Bandarlampung ini.

Ditanyakan  mengenai persiapan dirinya sejauh ini terkait strategi maupun penggalangan massa, dirinya mengaku santai dan mengalir. “Tidak ada jabatan yang perlu dikejar dan dipertahankan mati-matian. Saya maju bukan mau cari jabatan, tapi menawarkan konsep-konsep bagaimana kita bersama membangun Unila agar lebih baik lagi,” ujar pengurus DPD KNPI Kota Bandarlampung ini.

Sekedar informasi, Naufal yang memiliki latar belakang keluarga nahdliyin ini lahir di Bandarlampung, 17 Maret 1997. Selain aktif sebagai pengurus KNPI, ia juga pernah menjadi pendiri sekaligus pemimpin redaksi majalah sekolah di SMA-nya. Pria berkacamata ini juga pernah menjadi seorang jurnalis di surat kabar harian (SKH) Radar Lampung pada Juli 2014 hingga Desember 2015 lalu. (redaksi)