"Banyak yang Bilang Saya Gila"
![]() |
| Ahmad Naufal A. Caya |
Lebih dari sepekan yang lalu pemilihan raya (Pemira) di Universitas Lampung (Unila) untuk memilih presiden-wakil presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM). Rabu (30/3) lalu hiruk pikuk pesta demokrasi di kampus berjuluk Kampus Hijau tersebut kini meninggalkan kisah yang rupanya menjadi curahan hati (curhat) mantan Calon Presiden Mahasiswa (Presma) Ahmad Naufal A. Caya.
Laporan Tim Redaksi
BANDARLAMPUNG -
SAAT disinggung untuk membuka cerita pengalamannya menjadi seorang calon presiden Unila, pria kelahiran Bandarlampung, 17 Maret 1997 ini hanya tertawa. "Itu pengalaman saya yang tidak mungkin saya lupakan dan menjadi pelajaran ke depannya," ujar Naufal membuka cerita.
Menurutnya, tidak banyak yang tahu apa alasan dirinya memutuskan untuk maju dalam suksesi BEM Unila 1 tersebut. Sehingga wajar saja tidak sedikit sivitas akademika Unila hingga masyarakat umum pun bertanya-tanya bahkan hingga mengolok-olok. "Orang banyak yang bilang saya gila. Baru semester empat sudah berani maju jadi presma. Nggak ada sejarahnya," tuturnya sembari tertawa.
"Saya maju karena ingin berkontribusi secara maksimal untuk Unila. Memang menjadi presma bukan satu-satunya cara supaya saya bisa mengabdi untuk Unila. Tapi, seperti yang kita ketahui, kita tidak akan dipandang dan ide-ide kita tidak akan didengar kalau kita bukan siapa-siapa. Iya kan?," ungkapnya.
Menjadi presma, lanjutnya, adalah cara yang dipandang tepat dengan membuat program-program yang nantinya diperjuangkan oleh BEM demi kepentingan sivitas akademika, khususnya mahasiswa sebagai pemeran utama dalam institusi perguruan tinggi. "Apa yang saya sampaikan ini tidak langsung dipercaya oleh mereka yang mendengar. Ada sih yang percaya, tapi banyak juga yang nggak mau dengar," katanya.
Sembari menyeruput secangkir teh hangat di depannya, Naufal melanjutkan ceritanya. Ia mengaku di 2015 lalu pernah mengambil berkas capresma juga. "Kalau dulu itu iseng. Tahun ini yang serius," ujarnya lantas tertawa lagi. Dirinya mengaku, persiapannya jelang Pemira 2016 lalu hanya 1,5 bulan. Di mulai dari pertengahan Januari dirinya mulai mendapat support dari beberapa dosen dan sahabat-sahabatnya.
"Ada dosen-dosen yang sudah saya anggap mentor, mereka support saya untuk maju. Saya bilang jadi presma itu nggak becandaan, harus serius. Makanya terlebih dahulu saya konsultasi ke Allah, salat istikharah," katanya.
Selama dirinya memikirkan niatnya tersebut, ia sudah tiga kali salat Istikharah dan dua kali mendapatkan mimpi. "Saya nggak tahu itu mimpi buruk atau jawaban salat saya. Yang jelas, di dua mimpi itu saya dikeroyok sekumpulan orang dan mereka berteriak saya itu hanya mau merebut kekuasaan dari kumpulan orang itu," ungkapnya.
Meski dua kali mendapat mimpi, tak lantas membuatnya mengurungkan niat. Hal ini sesuai mottonya, yakni kalau berani jangan takut-takut, kalau takut jangan berani-berani. Jadilah ia membuat visi, misi, program aksi, dan tak lupa mencari pendamping alias wakil presiden.
Hal yang menurutnya lucu adalah sampai H-2 penutupan pendaftaran dirinya belum juga menemukan sang wakil. "Banyak yang saya ajak nggak mau. Alasannya takut menang katanya. Ada sih yang mau tapi sayanya yang nggak mau," selorohnya. Barulah ia mendapatkan sosok wakil setelah mendapat usul dari Nur Hudiman, seniornya di organisasi yang ia ikuti. Ya, dia Baidowi.
"H-2 saya baru dapat pasangan. Kak Baidowi itu sebelumnya tidak pernah mengira saya ajak maju karena dia masuk di pendukung saya. Rupanya jodoh saya itu ada di dekat saya," candanya.
Setelah mengembalikan berkas dan melengkapi berkas pendaftaran dua hari setelahnya, tibalah pengumuman verifikasi berkas. "Saya betul-betul tidak menyangka bisa lolos verifikasi. Malah yang kami kira bakal ada tiga pasang, rupanya pasangan Risko-Jeje yang gugur," kata dia.
Satu hal yang tidak bisa lupakan ketika dirinya di suatu malam jelang hari pemilihan ditelepon orang tidak dikenal dengan bernada ancaman. "Saya dibilang aktifis gadungan. Diancam dibunuh juga. Saya tidak tahu apa maksud yang menelpon itu," bebernya.
Ditanyakan apakah ia akan melaporkan kepada pihak berwajib, Naufal buru-buru membantah. "Nggak perlu lah. Orangnya saja siapa kita tidak tahu. Tim saya sih marah, cuma saya tanggapi dengan candaan-candaan saja," jelasnya. Memang sosok pria berkacamata ini tidak terlepas dari "joke" dan kelakar yang menurutnya hal itu untuk menghilangkan beban fikiran.
Selain diancam, pasangan Nabawi-singkatan Naufal-Baidowi- juga mendapat serangan black campaign. Mulai dari mengait-ngaitkan majunya Naufal dengan Pilkada 2017 hingga menyebutkan Naufal adalah mahasiswa pro-rektorat yang akan menghapuskan aksi sebagai bagian yang tidak bisa dilepaskam dari gerakan mahasiswa. "Yang lebih mengherankan lagi saya difitnah dibiayai oleh rektor dan perusahaan-perusahaan besar," bebernya.
Dirinya tak menyangkal tuduhan-tuduhan tersebut adalah fitnah, namun dirinya menghadapinya dengan santai dan tak ingin ambil pusing. "Biar orang yang menilai. Ini dunia akademik, melalui curhatan saya ini, saya ingin mengingatkan mereka agar cukup menyerang saya dan jangan kepada capresma berikutnya. Kalau begini terus lama-lama nggak ada lagi yang mau nyalon karena takut," ingatnya.
Melihat hasil Pemira 2016 yang menunjukkan kekalahan di kubunya, Naufal menilai hal itu wajar dalam suatu suksesi. "Saya anggap wajar. Tiap suksesi pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Saya ingat pesan almarhum kakek saya, bahwa jabatan itu jangan dicari dan jangan dipertahankan mati-matian. Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya," ujar pengurus DPD KNPI Kota Bandarlampung ini.
Terakhir, ia mengatakan ke depannya demokrasi di kampus jangan pernah ada lagi seperti yang ia alami. "Intimidasi dan black campaign itu memang ada di setiap suksesi. Tapi kalau di kampus yang notabene orang-orang di dalamnya adalah manusia intelek itu namanya keterlaluan. Biarlah ini terjadi pada saya, jangan sampai kepada yang lainnya," tegasnya.
Ditanyakan apakah ke depan ia berniat untuk maju lagi dalam suksesi BEM Unila 1, ia kembali tertawa. "Dibilang kapok sih nggak. Tapi kita lihat saja nanti. Saya tidak mau berandai-andai," pungkasnya. (*)



